Kemampuan Siswa Indonesia di Bawah Rata-rata Internasional PDF Cetak Surel

Kemampuan membaca, ilmu pasti, matematika, dan penalaran siswa Indonesia, berdasarkan tiga survei, menunjukkan nilai di bawah rata-rata skor internasional 500.

"Bila dikaitkan dengan benchmark internasional, siswa Indonesia hanya mampu menjawab soal-soal dalam kategori rendah dan sedikit sekali," ungkap Fredi Munger, peneliti dari Contractor for Strategic Advisory Services (CSAS) Australian-Indonesian Basic Educationa Program (AusAID) di Departemen Pendidikan Nasional.

Fredi menganalisis data dari tiga survei, yakni Progress in International Reading Literacy Studi (PIRLS 2006), Programme for International Student Assesment Study (PISA 2006), dan Trend in International Mathematics and Science Study (TIMSS 2007).

Ia mengatakan kemampuan siswa Indonesia bahkan hampir tidak ada yang dapat menjawab soal-soal yang menuntut pemikiran tingkat tinggi.

Kajian PIRLS tentang pemahaman membaca di kelas 4 sekolah dasar menunjukkan rata-rata skor siswa Indonesia adalah 405, di bawah skor internasional, 500.

"Anak perempuan kelas 4 SD di Indonesia lebih baik daripada anak lelaki kelas 4 SD," jelas Fredi. Anak-anak pedesaan, lanjutnya, mempunyai prestasi lebih rendah daripada anak-anak yang berasal dari pinggiran maupun perkotaan.

Dari hasil PISA yang menguji pemahaman ilmu pasti, matematika, dan membaca pada anak usia 15 tahun, Fredi melanjutkan, kemampuan siswa perempuan lebih baik di bidang membaca.

"Siswa lelaki memperoleh hasil yang lebih baik dalam matematika, tak ada perbedaan kemampuan di bidang sains," jelasnya.

Jika dibandingkan standar internasional, kemampuan memahami ilmu pasti (393), matematika (391), dan membaca (393), skor anak Indonesia masih di bawah 500.

TIMSS yang menilai kemampuan sains dan matematika dari 49 negara menunjukkan skor rata-rata siswa Indonesia pada kelas 4 dan kelas 8 hanya 397 dari skala internasional 500. "Kemampuan matematika anak-anak Indonesia lebih tinggi di antara 11 negara dan sama dengan lima negara lainnya," papar Fredi.

Fredi menegaskan hasil kajian ini tidak memberikan informasi mengenai kejiwaan siswa, moral, sosial, jasmani atau kemampuan fisik. "Siswa Indonesia pada akhir jenjang wajib pendidikan memiliki lebih sedikit kemampuan daripada rekannya di negara lain," urainya.

Kemampuan tersebut terutama dari pemecahan masalah, analisa informasi dan evaluasi serta interpretasi bacaan. Sumber: TI

Comments (0)
Only registered users can write comments!